Terjangan banjir dipenghujung tahun 2016 silam tidak berlebihan jika dikatakan masih menyisahkan duka dan trauma bagi masyarakat Kota Bima. Dibeberapa titik ketiggian air bahkan mencapai tiga meter. Cerita 7 tahun silam seakan membayangi kita akhir-akhir ini. Intensitas hujan yang tinggi menyebabkan beberapa kelurahan terdampak luapan terlebih yang bermukim disepanjang aliran sungai Padolo dan Melayu. Jika dulu musim hujan dapat kita nikmati dengan aroma bau tanah yang khas, larian anak kecil sambil bermain, tetapi kini hujan hadir dengan rasa was-was bersama kesibukan baru memantau ketinggian air lewat sosial media.
Dalam beberapa diskursus ada beberapa upaya yang dapat dilakukan dalam mencegah terjadinya banjir. Pertama, pemulihan kembali lahan dan hutan, hutan harus dikembalikan fungsinya sebagai penyangga air. Kondisi lahan dan hutan kita sudah sangat memprihatinkan. Tawaran sistem pertanian terintegrasi tentu dapat menjadi satu pilihan yang rasional dimana petani selain memanfaatkan lahan untuk tanaman musiman harus ditanami juga tanaman tahunan, pengembangan sistem pertanian dan peternakan dalam satu waktu diharapkan dapat menjadi jawaban alasan masifnya penanaman tanaman musiman. bahkan tawaran yang sedikit ekstrem adalah jika tidak ditanami sebaiknya lahan-lahan ini dimintai kembali, tentu poin ini kita membutuhkan political will dari pemangku kepentingan daerah. Apalagi pemulihan lahan dan hutan ini membutuhkan waktu yang panjang sehingga harus segera dapat dilakukan.
Kedua, pembatasan pengambilan air bawah tanah dengan mengutamakan manajemen dan pengelolaan air. jika tidak dibatasi pengambilan air bawah tanah menyebabkan tanah semakin turun. ini menyebabkan terjadinya genangan, apalagi jika permukaan air laut menajdi lebih tinggi air akan sulit bermuara.
Ketiga, menambah cadangan air tanah dengan menanam pohon, menambah ruang terbuka hijau atau kegiatan-kegiatan dengan peresapan air seperti sumur resapan, biopori. Upaya-upaya ini adalah tanggungjawab bersama, dilakukan secara kolaborasi Pemerintah, swasta dan masyarakat, bahkan dalam pemahaman pemerintahan masa kini fungsi pemerintah berperan sebagai fasilitator, masyarakat dapat berperan sebagai subjek yang tidak lagi dipandang sebagai objek pembangunan semata.
Keempat, sebaiknya menanam tanaman yang mampu menyimpan air. setiap tahun melalui Perangkat daerah terkait pemerintah gencar memberikan bibit tanaman, satu upaya yang harus diapresiasi. Menanam pohon adalah satu satu upaya yang akan dirasakan dalam jangka waktu menengah, sehingga harus dilakukan mulai hari ini, dalam lima tahun masa RPJMD maka pada tahun kelima tanaman-tanaman ini sudah dapat kita lihat tumbuh dan memberi manfaat.
Kelima, yang tidak kalah penting adalah menyiapkan mitigasi bencana, kegiatan kesipasiapsigaan bencana, peningkatan pelatihan kebencanaan. Pemahaman kebencanaan harus menyeluruh sehingga semua pihak dapat memahami peran yang dapat dilakukan oleh masing-masing.
Pada akhirnya, nasihat para tetua harus tetap kita pegang, bahwa apa yang ditanam itu yang akan kita petik.
Komentar
Posting Komentar